Topik 2 Aksi Nyata Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia
Nama : Nurhayati
NIM
: 2398014883
TOPIK
2_AKSI NYATA
Berikut hasil refleksi setelah mempelajari topik 2 Perspektif Sosiokultural dalm Pendidikan:
1. Mulai Dari Diri: apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?
Sebelum memulai pembelajaran perspektif sosiokultural topik 2 ini, hal yang saya pikirkan yakni bagaimana konsep dasar mengenai perspektif sosial kultural dalam pendidikan, lalu bagaimana penerapan konsep dasar mengenai perspektif sosiokultural dalam pendidikan.
2. Eksplorasi
Konsep: apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?
Hal
yang saya pelajari dalam topik ini mengenai status sosioekonomi (SES). Status sosioekonomi (SES) adalah cara untuk
mengelompokkan individu dan keluarga berdasarkan kemampuan ekonomi dan status
sosial mereka. SES sangat mempengaruhi pola perkembangan siswa, meskipun jika
mereka diperlakukan dengan cara yang sama di sekolah. SES juga memengaruhi
kecerdasan, sikap, kreativitas, dan nilai siswa. Setelah mengetahui hal ini,
sebagai guru kita tidak boleh menghambat siswa hanya karena adanya perbedaan
SES. Pola interaksi siswa sangat dipengaruhi oleh status sosioekonomi mereka.
Menurut studi penelitian umum, perbedaan SES dalam hasil siswa seperti prestasi
atau keterasingan dimediasi oleh konteks motivasi (Mudrok, 1999). SES rendah
merupakan faktor resiko keterasingan yang terkait dengan kurang keberhasilan,
persepsi ketidakadilan, dukungan rendah, dan penilaian guru yang buruk. Oleh
karena itu, materi ini sangat berpengaruh untuk mengubah perspektif tentang SES
sehingga tidak ada perbedaan sosial di antara siswa.
Saya memahami bahwa
konsep utama teori sosiokultural dapat mempengaruhi mental seorang individu
sebagai tempat berlangsungnya proses mental. Teori sosiokultural sebagai alat
mediasi artinya bertujuan untuk melakukan self regulation, meliputi self
planning, self checking, dan self evaluating, dan media berkomunikasi antar
sesama. Konsep ini dapat berkontribusi pada teori pembelajaran dan pengajaran
karena sangat mempengaruhi komunikasi antar individu dan mempengaruhi
ketercapaian tujuan pembelajaran. Teori sosiokultural menggunakan praktik untuk
belajar. Karena teori ini menerapkan pengalaman dalam pembelajaran, praktik
siswa berbeda-beda. Dalam banyak penelitian terbaru, kata "mediasi"
digunakan. Beberapa di antaranya didasarkan pada teori Vygotsky, sedangkan yang
lain dikembangkan secara independen (misalnya, Feuerstein, 1990). Ada dua sisi
mediasi: satu manusiawi, yang lain simbolis. Pendekatan yang berfokus pada
mediator manusia biasanya dikaitkan dengan keterlibatan orang dewasa dalam
meningkatkan kinerja anak. Di sisi lain, pendekatan yang berfokus pada aspek
simbolik berfokus pada perubahan dalam kinerja anak yang dapat disebabkan oleh
pengenalan alat-alat simbolik mediator. Sedangkan teori sosiokultural sebagai alat
psikologi digunakan untuk mengukur perilaku dengan cara yang objektif dan
distandarisasikan atas sampel perilaku tertentu.
Dengan menggunakan perspektif alat psikologis,
serangkaian prinsip dapat digunakan untuk membuat program intervensi kognitif
baru yang menggabungkan alat psikologis dan pendekatan MLE. Menurut teori
sosiokultural, mediasi manusia dan mediasi simbolis harus saling bekerjasama dan
tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, gaya mediasi manusia tidak dapat
dipahami dengan baik kecuali peran mediator simbolik diakui. Alat simbolik,
seperti huruf, kode, dan tanda matematika, tidak memiliki makna dan tujuan di
luar norma budaya yang membuatnya. Pemahaman yang tepat tentang fungsi
instrumental alat dapat hilang jika tujuan ini dimediasi dengan buruk kepada
siswa. Konsep mediasi dan alat psikologis sangat berkontribusi pada teori
pembelajaran dan pengajaran karena dalam praktiknya, pembelajaran memiliki
tujuan, yaitu membuat peserta didik paham dengan materi yang dipelajari. Mediasi
dan alat psikologis dapat membantu peserta didik untuk memahami materi
literasi, numerisasi, dan sains.
Konsep ini membantu teori pembelajaran dan
pengajaran dengan melihat bagaimana siswa belajar secara individual dan
sosiokultural. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami dimensi individu
dan sosial budaya dari situasi belajar Vygotsky dengan memahami konsep alat
psikologis dan mediası. Konsep ini menetapkan bahwa guru bertindak sebagai
mediator dan fasilitator dan membantu siswa menemukan jalan mereka dalam proses
pembelajaran. Guru harus menggunakan alat psikologis dan alat simbolik sebaik
mungkin untuk membantu siswa mereka belajar secara efektif dan efisien. Alat
psikologis adalah motivasi yang diberikan guru kepada siswa agar mereka tetap
termotivasi untuk belajar. Namun, alat simbolik termasuk dalam sarana dan
prasarana pembelajaran. Komputer dan teknologi canggih lainnya yang membantu
pembelajaran dapat menjadi contoh alat simbolik.
Penerapan konsep sosiokultural dalam pendidikan
dan pembelajaran di Indonesia sangat memungkinkan terjadi, dan bahkan mungkin
harus dilakukan, hal ini dikarenakan kondisi Indonesia yang memiliki
keanekaragaman yang tinggi yang membuat kondisi sosio kultur antara satu daerah
dengan lainya memiliki perbedaan yang nyata. Dengan memperhatikan hal tersebut
sudah banyak sekali pembelajaran yang sudah mulai menggunakan konsep
sosiokultural dalam pembelajaran, selain menghargai apa yang ada di lingkungan
tersebut (berkaitan dengan nilai luhur budaya tersebut) pendekatan
sosiokultural juga dirasa dapat mempermudah penerimaan informasi dalam
pembelajaran sehingga proses pembelajaran berlangsung dengan optimal.
Saya akan menerapkan
perhatian terhadap interaksi antar peserta didik agar tidak ada kesenjangan
mengenai status sosioekonomi sehingga diharapkan tidak akan terjadi kasus
bullying yang disebabkan oleh perbedaan status ekonomi, kemudian saya juga akan
menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melihat
sosial-budaya yang berkembang di daerahnya supaya pembelajaran berjalan dengan
efektif dan menyenangkan. Sebagai seorang calon guru profesional, saya siap
untuk mengakui siswa sebagai pribadi yang mempunyai kepribadian yang unik
sesuai kodratnya, saya harus menyelaraskan semua siswa tanpa memandang status
atau latar belakang sosial, ras agama maupun budaya. Saya juga siap menjadi
mediator berkembangnya pengetahuan peserta didik, dengan menerapkan
pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dan disesuaikan dengan
keadaan sosial-budaya peserta didik supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai
dengan optimal.
3. Ruang
Kolaborasi: apa yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda
dalam ruang kolaborasi?
Kami
mempelajari studi kasus tentang perspektif sosiokultural dalam penerapan
pendidikan di Indonesia. Terdapat 3 studi kasus yang kami pelajari;
Pertama,
pada bagian belajar berdemokrasi studi kasus yang diambil dari buku Mengajar
Untuk Perubahan. Pada bagian sub judul Belajar Berdemokrasi membahas tentang pengalaman guru Deny Surya Permana yang mengajar Pendidikan Kewarganegaraan di kelas XI IPS
1 SMAN 3 Pandeglang. Ketika mengajar, Deny mengajak siswa mendiskusikan
problem kehidupan mereka, pokok bahasannya mengenai hak dan kewajiban. Ia memberikan referensi pembelajaran dari koran tentang
demonstrasi, kemudian siswa dibuat kelompok dan diminta untuk menganalisisnya. Pembelajaran
berlanjut hingga bermain peran dalam memperjuangkan hak. Peserta didik melakukan simulasi demonstrasi ada yang
mengambil peran seorang demonstran, pihak keamanan dsb. Hal yang tidak
diduga-duga justru muncul, yakni ketika anak-anak sudah kelas XII mereka melakukan
demonstrasi sungguhan meminta Kepala Sekolah dipecat. Pasalnya, menurut
anak-anak, mereka telah diminta sumbangan Rp. 60.000,- per siswa untuk
komputer, namun tidak ada wujudnya. Melihat hal tersebut, maka pembelaiaran demonstrasi sebagai bentuk demokrasi ini dinilai
berhasil dan bermanfaat bagi peserta didik ketika mereka kelas XII peserta
didik dengan berani melakukan aksi demonstrasi kepada Kepala Sekolah yang
korup, dan kepala sekolah berhasil mereka ganti.
Faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam cerita tersebut yakni kehidupan
sosial peserta didik tidak jauh dari alam pesisir yang panas. Anak-anak yang
lahir dan tumbuh dari lingkungan pantai telah membentuk mereka menjadi anak-anak
yang aktif dan berani. Hal ini terbukti ketika mereka mengetahui bahwa kepala
sekolahnya korupsi iuran uang komputer, mereka dengan berani melakukan aksi
demonstrasi memecat kepala sekolah yang korup. Faktor budaya yang terjadi di
lingkungan sekolah, pertama stigma buruk terhadap peserta didik kelas IPS,
dianggap kelas buangan, banyak peserta didik yang membolos, dan selalu ribut
mengobrol selama proses pembelajaran. Namun dalam buku tersebut digambarkan
berbeda, peserta didik kritis dan berani memperjuangkan ketidakadilan, tentunya
hal ini tercipta karena faktor guru membentuk budaya belajar yang menyenangkan
sehingga dapat diterima oleh peserta didik. Dilihat dari faktor ekonomi,
umumnya peserta didik merupakan kalangan ekonomi kelas menengah ke bawah.
Sepulang sekolah mereka berjualan dipinggir pantai, menyewakan papan luncur, dan
menawarkan jasa membuat tato temporer yang bisa dihapus dalam waktu dua minggu.
Sehingga sepulang sekolah banyak waktu peserta didik dihabiskan mencari uang
daripada belajar. Dari faktor politik, terjadi gesekan antara peserta didik
dengan Kepala Sekolah, peserta didik melakukan aksi demonstrasi di sekolah dan
berlanjut long march di jalanan menuntut kepala sekolah yang korup dipecat. Hal
ini mengundang perhatian DPRD Pandeglang datang ke sekolah setelah viralnya
pemberitaan terkait aksi demonstrasi peserta didik tersebut. Untuk menindaklanjuti
dari aksi demonstrasi tersebut, sebulan setelah kejadian demonstrasi, Kepala
Sekolah dimutasi.
Kedua, kasus Ray Sang Pecandu Online Game yang diambil dari buku Mengajar untuk Perubahan hal 76-92. Dilihat dari faktor
sosial, kecanduan game online membuat Ray sampai tidak
mau keluar dari kamar untuk mandi apalagi ke sekolah sehingga berdampak pada
kurangnya sosialisasi dengan teman-teman sebaya dan lingkungan sekitar. Ray menganggap interaksi di dunia maya lebih menyenangkan. Hubungan Ray dengan orang tua semakin memburuk yang berujung pada umpatan dan kekerasan
fisik. Interaksi Ray dengan orang lain di dunia nyata pun disamakan dengan interaksi pada game online yang keras, dia hanya dapat
berekspresi diri dengan kata-kata kasar bahkan kotor. Faktor budaya yang
terjadi yakni kebiasaan duduk berlama-lama hanya dengan memandang
layar komputer berpengaruh pada masalah Kesehatan. Menurunnya fungsi organ tubuh akibat malas gerak, gangguan penyakit
lainnya akibat dari kurang tidur,
terlambat makan, dan lain sebagainya. Budaya kekerasan pada game
online yang secara terus menerus dilihat setiap hari akhirnya menjadi kebiasaan
buruk bagi Ray dalam tindakan nyata. Game online yang sangat
erat kaitannya dan biasa dengan konten tidak senonoh menjadikan peserta didik
seusia Ray pun gampang terpapar hal negatif tersebut. Dilihat dari faktor
ekonomi, Kecanduan game online berdampak buruk bagi
penggunaan uang , Ray yang akhirnya mulai mencuri uang milik ibunya dan
kakaknya, bahkan sampai membuat akun sosial media palsu dengan menggunakan
profil Wanita dewasa yang berpenampilan menarik untuk merayu pria-pria agar
mendapatkan uang tambahan. Sedangkan jika dilihat dari faktor politik, belum adanya perhatian khusus dari
pemerintah untuk membatasi munculnya berbagai situs game online yang makin
marak di internet dan belum adanya perhatian
khusus dari pemerintah untuk membatasi usia pengguna internet khususnya untuk
akses ke situs-situs game online.
Ketiga, kasus Literasi Dasar dari Buku Melawan Setan Bermata Runcing:
Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola. Dilihat dari faktor sosial, kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam masyarakat adat sangatlah kurang. Hal ini
mengakibatkan beberapa masalah yang merugikan masyarakat adat. Perbedaan pandangan sosial yang menyebabkan masyarakat adat dikucilkan oleh
masyarakat lain. Hal ini terlihat ketika masyarakat adat tidak bisa membaca,
mereka dimanfaatkan orang lain dengan memberikan upah penjualan barang tidak
sesuai dengan harga asli dan begitupula sebaliknya saat mereka ingin membeli
barang di luar masyarakat adat mereka. Karena tidak bisa membaca, mereka juga
pernah terkena tipu daya orang yang mengatakan akan memberikan mereka
penghargaan. Akan tetapi setelah ketua adat memberikan cap tanda tangan,
ternyata itu adalah surat jual beli hutan. Dilihat dari faktor budaya, masyarakat adat masih menjaga adat istiadat yang diturunkan dari leluhur
mereka. Yang salah satunya ialah tidak memperbolehkan anak-anak untuk mengenyam
pendidikan disekolah. Perempuan berusia 16-17 tahun disana sudah banyak yang menikah, sedangkan dikota usia 20 keatas masih banyak yang belum menikah. Masyarakat
adat memiliki tradisi lisan, sehingga mereka memiliki daya ingat yang kuat. Dilihat dari faktor
ekonomi, masyarakat adat masih mengandalkan kekayaan
alam dihutan untuk memenuhi kebutuhab hidup mereka. Dari faktor politik, dalam cerita tersebut terlihat peran lembaga sokola rimba untuk memberikan
ilmu kepada anak -anak masyrakat adat.
4. Demonstrasi
Kontekstual: apa hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi
kontekstual yang Anda jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan
diri sendiri)?
Cara memberikan
apresiasi dengan saling memberikan penilaian kepada kelompok lain saat
presentasi. Semua kelompok sudah mempresentasikan hasil dengan baik dan jawaban
yang diberikan mampu menjawab pertanyaan dari konsep dan topik perspektif
sosiokultural.
5. Elaborasi
Pemahaman: Sejauh ini, apa yang sudah Anda pahami tentang topik ini? Apa hal
baru yang Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum
pembelajaran dimulai? Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?
Pembelajaran
yang saya dapatkan adalah saya mendapat pengetahuan mengenai cara pandang
kepada peserta didik berdasarkan perspektif sosiokultural, dimana peserta didik
di sekolah sangat multikultural karena perbedaan latar belakangnya, baik
ekonomi maupun sosial. Serta beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Pendidikan
di Indonesia, seperti faktor sosial, ekonomi, dan politik yang berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan pemerintah.
Sebelum memulai pembelajaran
tentang konsep dasar perspektif sosiokultural dalam pendidikan, seseorang mungkin
memiliki pemahaman yang lebih terbatas tentang bagaimana faktor-faktor sosial
dan budaya memengaruhi proses pembelajaran. Mereka mungkin melihat pendidikan
sebagai upaya individu yang hanya melibatkan guru dan siswa. Namun, setelah
memahami konsep perspektif sosiokultural, saya dapat menyadari bahwa proses
pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan interaksi di
sekitar siswa. Awalnya saya menyadari bahwa pendidikan hanya sekadar transfer
pengetahuan, tetapi lebih dari itu pendidikan mencakup aspek sosial, budaya,
dan kolaboratif yang mendalam. Pemahaman ini mengubah cara saya melihat peran
guru, siswa, dan lingkungan dalam proses pembelajaran, hal ini mendorong kami untuk
lebih mempertimbangkan aspek-aspek ini dalam profesi kami sebagai pendidik.
Saya ingin
mempelajari lebih lanjut mengenai bagaimana
jika pembelajaran yang dirancang kurang sesuai antara peserta didik satu dengan lainnya, mengingat akan sulit untuk memahami karakteristik peserta
didik yang multikultural. Bagaimana cara mengatasinya?
6. Koneksi
Antar Materi: apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik didalam
mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?
Terdapat
korelasi yang kuat antara materi konsep dasar perspektif sosiokultural dalam
pendidikan dengan materi filosofi pendidikan dasar Ki Hajar Dewantara, asesmen,
pemahaman pesert didik terkait pembelajaran yang berpihak pada siswa, dan orientasi
praktik pengalaman lapangan dalam konteks pendidikan. Berikut adalah alasan korelasi
tersebut:
Konsep
Inti dari Filosofi Pendidikan Dasar Ki Hajar Dewantara adalah Perspektif
Sosiokultural dalam Pendidikan. Dia menekankan betapa pentingnya pendidikan
yang berakar dalam budaya dan kehidupan masyarakat. Perspektif sosiokultural
sangat relevan karena menekankan pengaruh lingkungan sosial dan budaya pada
pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh yang memiliki pemahaman mendalam
tentang masyarakat dan budaya Indonesia.
Asesmen
sebagai alat untuk mengetahui kebutuhan belajar, perkembangan, dan pencapaian hasil
belajar peserta didik: asesmen digunakan untuk mengukur sejauh mana peserta
didik telah mencapai tujuan pembelajaran mereka. Menurut filosofi Ki Hadjar
Dewantara, pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan individu.
Asesmen membantu menentukan kebutuhan belajar peserta didik dan mengukur
pencapaian mereka sesuai dengan prinsip ini.
Pemahaman
siswa tentang pembelajaran yang berpihak pada peserta didik: Prinsip-prinsip Ki
Hajar Dewantara menekankan bahwa siswa harus berpartisipasi secara aktif dalam
proses pembelajaran. Metode ini sejalan dengan perspektif sosiokultural, yang
melihat siswa sebagai anggota masyarakat yang aktif dalam belajar.
Orientasi
Praktik Pengalaman Lapangan: Ide Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan harus
relevan dan praktis. Orientasi ini mendukung gagasan ini dengan memberikan
pengalaman belajar yang nyata di luar kelas yang sesuai dengan konteks
sosiokultural siswa.
7. Aksi
nyata: apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan Anda sebagai guru? Bagaimana
Anda menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10? Apa alasannya? Apa yang
perlu Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?
Sangat
penting bagi guru untuk memahami konsep dasar perspektif sosiokultural dalam
pendidikan karena ini membantu saya memahami bahwa setiap siswa memiliki latar
belakang sosial dan budaya yang berbeda, yang dapat mempengaruhi cara mereka
belajar. Dengan memahami ini, guru dapat merancang dan menyesuaikan metode
mereka untuk memenuhi kebutuhan unik setiap siswa.
Setelah
mempelajari mata kuliah ini, saya menilai kesiapan diri saya dengan skala 7
dari 10 karena banyak bekal mengajar yang dapat digunakan dalam proses
pembelajaran di kelas, serta bagaimana belajar untuk memahami latar belakang
peserta didik.
Untuk
memaksimalkan penerapan materi perspektif sosiokultural dalam pendidikan, saya
harus melakukan hal-hal berikut:
1. Meneliti
latar belakang sosial dan budaya siswa.
2. Membangun
metode pengajaran yang beragam dan inklusif yang mempertimbangkan keadaan
sosial dan budaya siswa.
3. Mencari kursus atau sumber daya lebih lanjut tentang pendekatan sosiokultural dalam pendidikan.
Sekian, semoga bermanfaat ya
Salam literasi!
Komentar
Posting Komentar