Workshop Pak Parwanto

Judul buku : Workshop Review dan Penyusunan KOSP & KTSP

Pengarang  : Parwanto, S.Pd., M.M.Pd

Tahun terbit : 2023

Cetakan ke  :

Penerbit      : Kalibeber Mojotengah, Wonosobo

 

Resume

    Bangun sosial emosional dalam kelas diawali dengan buat kesepakatan belajar dengan anak didik lalu lama-lama akan timbul keyakinan dalam diri anak sendiri. Perkembangan belajar/materi sesuai tumbuh kembang anak jadi tidak harus mengejar materi sampai selesai. Dalam pembelajaran yang dinilai prosesnya atau peran setiap anak. Dalam kegiatan P5 kita berperan sebagai fasilitator bukan guru dan kegiatan berpusat pada anak didik. Jika awalnya pembelajaran berdiferensiasi maka perlu dilanjut dengan kolaborasi agar tidak ada unsur pembullyan. Saat pembelajaran berdiferensiasi (membedakan) kita berperan sebagai guru sementara saat kolaborasi (tujuan) kita berperan sebagai fasilitator.

Pembelajaran berdiferensiasi

1.      Tes Diagnostik

Untuk menentukan siswa low medium dan high dilakukan di awal pembelajaran (pretest). Berdasarkan kemampuan siswa yang berbeda-beda maka treatmentnya pun berbeda. Kelas 7, 8, dan 9 sama tetap berdiferensiasi yang membedakan hanya P5 dan struktur kurikulum. Penilaian pun sama.

P5 merupakan kegiatan proyek yang dinilai peran siswa dan tidak mementingkan hasil akhir namun tahu akan proses yang ia lalui. Sehingga P5 berpacu pada proses bukan hasil. Tugas kita sebagai fasilitator berbeda dengan guru. Semua kegiatan berpusat pada peserta didik. P5 dilakukan selama 360 jam dengan sistem blok selama tiga minggu atau rencana mingguan dengan mengambil salah satu hari dalam seminggu ex. hari sabtu.

2.      Asessment

1)      Diagnostik / Formatif awal

Diagnostik dilakukan diawal tahun pelajaran atau pada awal lingkup materi atau sebelum menyusun modul ajar secara mandiri, bisa memilih salah satu. Yang di tes kan adalah tes prasyarat tidak terkait dengan materi yang akan disampaikan. Sementara jika tes non kognitif dilakukan di awal semester, satu mapel dengan mapel yang lain boleh sama.

2)      Formatif (tidak utuh)

Tidak masuk nilai rapot hanya sumatif lingkup materi dan Sumatif Akhir Semester. Misal,

tujuan pembelajaran (TP) : siswa mampu bermain bola basket

indikator: 1. Bisa drible 2. Bisa melempar 3. Bisa menangkap 4. Bisa memasukkan bola

tes: praktik bermain basket, guru memiliki hak menentukan KKTP (berupa deskripsi). Misal anak yang bisa 4 indikator diberi pengayaan, bisa 3 indikator tuntas, yang bisa 2 indikator remidi sebagian, hanya bisa 1 indikator remidi seluruhnya. Catatan; jangan menggunakan KKTP satu angka namun harus interval.

Contoh:

Nama

Dribel

Melempar

Menangkap

Memasukkan

Bola

Total

Ket

A

v

v

v

v

4

Pengayaan

B

 

v

v

v

3

Tuntas

C

 

v

v

 

2

Remidi sebagian

D

 

v

 

 

 

Remidi seluruhnya

KKTP mampu 3 indikator dari 4 indikator dikatakan tuntas dengan interval nilai 75 sampai 100. Untuk siswa yang pintar diberi tantangan dengan belajar mandiri.

Setelah berdiferensiasi melakukan kolaborasi. Dalam satu kelompok berisi siswa yang low, medium, dan high. Siswa high sebagai tutor teman sebaya dan narasumber. Siswa medium sebagai sekretaris saat presentasi. Siswa low sebagai presentator. Pada saat kolaborasi, guru berperan sebagai fasilitator.

3)      Sumatif

Utuh tujuan, semua indikator. Sumatif akhir bisa berupa produk atau praktik bukan hanya tes tertulis sesuai dengan CP. Penilaian Harian (PH) hilang.

    Perencanan pembelajaran

    Alur pembuatan ATP

  1. CP disediakan pemerintah
  2. Tujuan pembelajaran ada beberapa metode (dibuat guru)
  3. ATP (Alur Tujuan Pembelajaran), dari pemerintah dimodifikasi oleh komunitas belajar
  4. Modul ajar (dibuat guru)
Sekian
Semoga bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi

Topik 1 Aksi Nyata Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia