Banyak Jalan Mendapat Hidayah-Nya
Judul buku : Surat Cinta Para Sufi
Pengarang : Moh. Fathollah
Tahun terbit : 2018
Cetakan ke : I
Penerbit : Diva Press
Resume
Buku
ini memberi saya pelajaran bahwa ada begitu banyak cara atau jalan untuk
mendapatkan cinta-Nya. Belajar dari kisah Qais dan Laila bahwa cinta seorang
hamba pada Tuhannya dapat melalui perantara apapun termasuk melalui sosok
perempuan seperti Laila ataupun melalui perantara ayah, ibu, keluarga, dan
hal-hal lainnya yang memberikan manfaat.
Dulu
ada tokoh bernama Uwais Al-Qarni, seorang yatim yang hidupnya sehari-hari
dijalani bersama ibunya yang sudah sakit-sakitan. Bukti kecintaan Uwais kepada
Allah Swt dan Rasul-Nya dengan mengabdi sepenuhnya kepada orang tua dan
menjalankan perintah-Nya. Rasa pengabdian Uwais diuji ketika ia dilema antara
ingin pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah Saw atau tetap tinggal untuk
menjaga ibunya. Meski akhirnya Uwais pergi ke Madinah namun ia segera kembali.
Selain
itu dari Uwais Al-Qarni kita dapat belajar untuk menyembunyikan “kedekatan
kita” dengan Allah Swt. Hubungan kita dengan Allah Swt cukup diri sendiri yang
tahu. Sifat qana’ah dan kedekatannya dengan Allah Swt membuat Umar bin Khatab
dan Ali bin Abi Thalib ingin menemuinya untuk memastikan sabda Rasulullah Saw
bahwa ia bisa memberi syafaat di hari kiamat sebanyak bulu domba yang dimiliki
kaum saat itu maka saat Umar dan Ali bertemu dengan Uwais mereka pun langsung
meminta doa dan istighfarnya.
Selain
Uwais, kita bisa belajar dari Hasan Al-Bashri bahwa jika mencintai Allah Swt
janganlah hanya karena rasa takut (khauf) kepada-Nya. Namun sertailah dengan
pengharapan tinggi akan karunia-Nya (roja) serta sikap tawadhu’ dan zuhud.
Kemudian lewat buku ini belajar juga dari Rabiah Al-Adawiyah, ia tidak takut
akan siksa neraka dan tak mengharapkan surga. Namun ia hanya ingin mendapat
ridho-Nya atas segala hal yang ia lakukan. Mahabbah atau cinta Rabiah
Al-Adawiyah pada Allah tidak hanya didasari rasa khauf atau roja tetapi
meliputi kepuasan hati (ridho), kerinduan (syauq), dan keintimanm (uns).
Kitapun
dapat belajar dari Malik bin Dinar, seorang yang senang bermaksiat kemudian
bertaubat sebab mendapat hidayah melalui mimpi bertemu Fatimah, putrinya yang
sudah meninggal. Setelah sadar dari mimpinya, ia lebih banyak mendekatkan diri
pada Allah Swt. sikap khauf (takut) mengantarkan Malik bin Dinar menjauhi dunia
dan terus belajar mencintai Sang Maha Cinta. Lalu belajar dari Abdul Qadir
Al-Jailani, pendiri tarekat Qadiriyah. Berdekatan dengan Sang Maha Cinta dengan
tarekat (jalan). Tarekat cinta Al-Jailani sama seperti Al-Ghazali mendekati
sang Ilahi dengan tak meninggalkan syariat. Jadi hampir menjalankan seluruh
sunnah-sunnah Rasulullah Saw dan sungguh-sungguh menjalankannya.

Komentar
Posting Komentar