Ketika Uang Bermain, Aku Bisa Apa?
Judul
buku : 86
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun
terbit : Maret 2011
Tebal
buku : 256 halaman
ISBN : 9789792267693
Resume
Novel 86 ini, lahir dari segala keprihatinan pada praktik-praktik korupsi di negeri ini. Terutama pada apa yang diketahui penulis secara langsung saat menjadi wartawan bidang hukum dan korupsi. Ungkapan 86 awalnya digunakan dikepolisian, yang artinya sudah dibereskan, sudah tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang. Urusan beres dengan uang. Bagi mereka yang sudah terbiasa, hal itu merupakan sebuah kewajaran. Saya yang polos lugu ini hanya bisa terus bilang "ooh, gitu ya" saat membaca kalimat demi kalimat dalam novel 86 ini. Sulit dipercaya kehidupan orang di pengadilan ada yang begitu. Apa memang begitu realitanya? Entahlah.
Membaca novel ini seperti menyaksikan langsung bagaimana
praktek kolusi dan nepotisme itu terjadi. Bagaimana alur perputaran uang itu
berpindah dari satu tangan ke tangan lain, lalu kebohongan yang dikatakan hanya
untuk menutupi sebuah tindak kesalahan (memperkaya diri sendiri), lalu
bagaimana kalimat "tidak tahu apa-apa"
"lupa" atau "tidak ingat" menjadi pilihan jawaban terdakwa
saat hakim bertanya jika ia ingin aman. Hasil
persidanganpun bisa diputuskan jauh sebelum hakim mengetok palu. Hal itu tentunya
beres jika ada uang, 86 pokoknya.
Kehidupan narapidana pun tak jauh dari uang sebagai
pelicin agar ia bisa makan, dibesuk keluarga, bahkan bisa pegang handphone.
Perdagangan barang terlarang pun lebih mudah dilakukan didalam asalkan setiap
bulan ada uang untuk petugas. Saat membaca novel ini, saya jadi teringat guyonan
almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kemarin sempat viral. Gus Dur dengan
pembawaannya yang humoris beliau mengatakan bahwa polisi yang jujur itu hanya
ada 3 yakni patung polisi, polisi tidur, dan jenderal Hoegeng. Menurut saya,
guyonan Gus Dur itu relevan dengan apa yang diceritakan dalam novel 86 ini.

Bagus2
BalasHapus